Jakarta, jupnasgizi.com – Ramadan bukan alasan berhentinya pemenuhan gizi anak-anak Indonesia. Justru di bulan puasa, perhatian terhadap asupan nutrisi menjadi semakin penting.
Itulah yang menjadi pijakan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama Ramadan 2026. Namun, caranya dibuat lebih fleksibel dan menyesuaikan kondisi masyarakat.
Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan, pola distribusi tidak lagi disamaratakan. Ada empat skema khusus yang disiapkan agar program tetap relevan, baik bagi siswa yang berpuasa, yang tidak berpuasa, hingga kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita.
Untuk sekolah dengan mayoritas siswa berpuasa, makanan tetap dikirim seperti biasa, tetapi dikemas dalam menu yang lebih tahan lama. Tujuannya agar bisa dibawa pulang dan dinikmati saat berbuka.
Artinya, fungsi gizi tetap terpenuhi tanpa mengganggu ibadah.
Berbeda halnya dengan sekolah di wilayah yang mayoritas siswanya tidak berpuasa. Di daerah ini, MBG berjalan normal seperti hari-hari biasa.
Pendekatan yang sama juga diterapkan bagi kelompok rentan—ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita—yang tetap mendapatkan layanan reguler. Bagi mereka, kebutuhan nutrisi harian tidak bisa ditunda.
Sementara itu, lingkungan pesantren memiliki pengaturan tersendiri. Karena dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berada di dalam kompleks pesantren, proses memasak dilakukan siang hari, namun makanan baru dikonsumsi saat berbuka.
“Pelayanannya digeser ke saat buka. Jadi masaknya siang hari, dikonsumsi pada saat buka,” ujar Dadan di Masjid Istiqlal, Jakarta. Sabtu, (7/2/2026).
Skema ini menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar program pembagian makanan, melainkan sistem layanan gizi yang adaptif terhadap budaya dan praktik keagamaan masyarakat.
Dengan penyesuaian tersebut, Ramadan tetap menjadi bulan ibadah tanpa mengorbankan kesehatan generasi muda.





